Kritik Satir Aktivis Soal Rokok Ilegal untuk Wakil Rakyat Nur Faizin

Komentar publik di TikTok menunjukkan kekecewaan mendalam: wakil rakyat dianggap sibuk jargon, tapi jauh dari penderitaan petani tembakau.

SUMENEP, MADURANET – Unggahan satir aktivis muda Fauzi As di TikTok pada 22 Agustus 2025 berjudul “Basmi Rokok Ilegal: Satir (ejekan untuk mengkritik dan menyoroti keburukan, kebodohan, atau kekurangan, red) untuk Nur Faizin” memantik gelombang respons warganet. Kritik yang diarahkan pada Nur Faizin, politisi PKB asal Sumenep sekaligus anggota DPRD Jawa Timur, mendadak menjadi ruang ekspresi luas bagi publik Madura untuk meluapkan kekecewaan mereka.

Di kolom komentar, dukungan mengalir deras. Komentar-komentar itu tidak lagi sekadar like atau emoji, melainkan pernyataan bernuansa politik, sindiran, bahkan ajakan boikot.

“Kelas Kakak.. Panjang Umur orang Baik,” tulis akun @Dio DRT’87, memberi semangat agar kritik tak berhenti.

“Sekarang DPR bukan mewakili rakyat, tapi memikirkan dirinya sendiri,” ujar @Za\_Luf, menegaskan ketidakpercayaan terhadap lembaga legislatif.

Akun @double A bahkan lebih frontal: “Wakil Madura yang tak mencerminkan kondisi masyarakat, khususnya petani tembakau. #boikotPKB dari bumi Madura.”

Sementara @RUDY REGA KOREKK menuliskan: “Dengan adanya rokok, Madura makmur. Ekonomi lancar, lahan pekerjaan banyak, petani terangkat.”

Tulisan Fauzi sendiri menyoal ketimpangan wacana. Ia mempertanyakan apakah Nur Faizin sungguh memahami jumlah petani tembakau, berapa ton produksi tiap musim, hingga harga riil di gudang. Atau, sebaliknya, ia hanya mengutip laporan Bea Cukai dan jargon soal “wibawa negara” tanpa menyinggung “wibawa petani”.

Fauzi menutup tulisannya dengan peringatan: jangan sampai Faizin dikenang sebagai politisi dari tanah tembakau yang justru menjadi “penggilas” tembakau itu sendiri.

Fenomena ini menunjukkan satir Fauzi bukan sekadar kritik personal, melainkan alarm politik. Komentar-komentar publik di media sosial menggambarkan jurang ketidak percayaan yang semakin lebar antara rakyat kecil dan wakilnya di parlemen.

Satir itu lahir dari kejenuhan, komentar netizen menegaskannya, dan kini bola panas ada di tangan Nur Faizin: apakah ia menjawab dengan kerja nyata, atau membiarkan suaranya tenggelam dalam gelombang kekecewaan rakyat Madura.

Exit mobile version