Organisasi Profesi Kesehatan Pamekasan Soroti Etika Penyampaian Aspirasi

Organisasi profesi menilai penyampaian kritik tetap penting, tetapi harus dilakukan sesuai etika agar tidak berubah menjadi tekanan atau intimidasi terhadap tenaga kesehatan.

Tri Susandi Juliarto (kacamata) saat doorstop awak media di Pringgitan Luar Pendopo Ronggosukowati, Selasa (6/10/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Forum Komunikasi Organisasi Profesi Kesehatan Kabupaten Pamekasan, menyoroti cara penyampaian aspirasi masyarakat yang dinilai telah menimbulkan tekanan terhadap tenaga kesehatan.

Ketua Forum Komunikasi Organisasi Profesi Kesehatan Kabupaten Pamekasan sekaligus Ketua IDI Pamekasan, Tri Susandi Juliarto, mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu alasan organisasi profesi menyampaikan sikap kepada Bupati Pamekasan Kholilurrahman.

“Kita tidak menolak masyarakat menyampaikan aspirasi. Kita bahkan sangat berterima kasih. Tetapi semua itu ada tata caranya,” kata Tri setelah audiensi di Pendopo Ronggosukowati, Selasa (6/10/2026).

Menurut Tri, tenaga kesehatan dalam menjalankan pelayanan kerap menghadapi situasi, dengan karakter masyarakat yang beragam. Dalam kondisi tertentu, keluhan dapat disampaikan dengan tekanan verbal, bentakan, perekaman, hingga tindakan yang membuat petugas merasa terintimidasi.

“Yang konkret, tidak sedikit teman-teman kita di pelayanan itu ditunjuk-tunjuk, direkam, dimaki, bahkan diancam. Padahal semua itu ada prosedurnya,” ujarnya.

Tri menyebut, persoalan tersebut kembali mengemuka setelah video aksi penyampaian aspirasi, terhadap Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Saifudin beredar dan menjadi perhatian publik. Ia menyebut peristiwa itu sebagai pencetus organisasi profesi untuk menyampaikan sikap secara bersama-sama.

“Itu pencetus. Kita orang Timur sangat menjunjung tinggi sopan santun. Kita tidak menolak masyarakat menyampaikan aspirasi, tetapi semua itu ada tata caranya,” katanya.

Menurut Tri, penyampaian aspirasi tetap dapat dilakukan secara terbuka, tanpa mengabaikan batas antara kritik dan tindakan yang berpotensi membahayakan. Karena itu, ia mendorong adanya standar operasional prosedur, yang mengatur mekanisme penyampaian aspirasi di fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia juga menilai petugas keamanan perlu memiliki mekanisme yang jelas ketika menghadapi aksi penyampaian aspirasi. Pengamanan, menurut dia, jangan sampai menghalangi masyarakat menyampaikan kritik, tetapi juga harus mampu mencegah terjadinya tindakan yang dapat merugikan kedua belah pihak.

“Sejauh mana petugas keamanan harus bergerak supaya tidak menghambat proses aspirasi, tetapi tetap menjaga keamanan kedua belah pihak. Itu teknis,” ujar Tri.

Tri juga menyoroti, kejadian ketika Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan berada di tengah aksi penyampaian aspirasi. Menurut dia, sebagai seorang dokter dan pejabat yang membina organisasi profesi kesehatan, Saifudin mendapat dukungan moral dari seluruh organisasi profesi.

“Di situ Kepala Dinas adalah seorang dokter, berarti anggota saya. Kebetulan beliau lebih tua, berarti senior saya. Sesuai jabatan, beliau juga pembina seluruh organisasi profesi. Makanya seluruh organisasi profesi menyampaikan simpatinya,” katanya.

Ia mengatakan organisasi profesi juga mempertimbangkan kemungkinan langkah hukum atas kejadian tersebut. Namun, Tri menegaskan, pihaknya belum mengambil keputusan, karena aspek hukum harus dikaji berdasarkan bukti yang tersedia.

“Kalau dari fakta hukum, itu termasuk tindakan tidak menyenangkan. Tapi saya belum bisa bilang sekarang. Beberapa senior dan beberapa ahli menyampaikan itu menjadi pilihan,” ujar Tri.

Menurut dia, jika langkah hukum ditempuh, penilaiannya harus berdasarkan rekaman, gambar, serta data yang dapat diverifikasi. Karena itu, organisasi profesi tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan.

“Fakta hukum harus ditangani ahli, rekaman yang jelas, gambar visual yang jelas, verifikasi data. Jadi saya enggak bisa bicara lebih jauh. Bahwa pemikiran itu ada, yes,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Saifudin menyampaikan terima kasih, atas dukungan organisasi profesi kesehatan. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Saya dari hati yang paling dalam menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya, atas dukungan, support, dan spirit dari teman-teman organisasi profesi,” kata Saifudin.

Saifudin juga berharap, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik dan sesuai kepatutan. Ia menilai kejadian tersebut tidak mencerminkan karakter masyarakat Pamekasan secara keseluruhan.

“Saya kira penyampaian aspirasi itu bisa disampaikan secara baik sesuai dengan kepatutan dan etika yang ada. Saya berharap masyarakat luas mengetahui bahwa itu bukan karakter orang Pamekasan,” ujarnya.

Ia mengatakan telah tinggal di Pamekasan selama sekitar 30 tahun dan mengenal banyak ulama, kiai, serta tokoh masyarakat. Menurut Saifudin, selama ini hubungan tersebut berjalan dengan baik dan mengedepankan sopan santun.

“Saya sudah 30 tahun di sini, kenal dengan para ulama, para kiai, para tokoh. Semuanya baik, tutur katanya baik, sopan santun. Itu yang membuat saya kerasan di sini,” pungkas Saifudin.

Exit mobile version