Rivalitas Joki Sapi Karapan antara Guru dan Murid

Enam tahun menjadi joki, Toriq telah mengantongi enam tiket ke Gubeng. Faris, muridnya yang berusia 14 tahun, menyusul dengan tiga tiket.

Toris dan dan Faris berselebrasi usai memacu sapi di final Kerapan Kabupaten Pamekasan 2026.

PAMEKASAN,MADURANET – Debu mengepul di lintasan karapan sapi Asem Manis, Desa Murtajih, Pademawu, Ahad, (11/10/2026), saat Karapan Sapi piala Bupati Pamekasan 2026. Dua pasang sapi melesat di lintasan sepanjang 130 meter.

Di atasnya, dua joki cilik menepuk bokong sapi sambil menjaga keseimbangan agar tak terlempar. Keduanya masih bocah. Toriq duduk di kelas IX SMP di Pamekasan, sedangkan Faris, 14 tahun, masih kelas V SD.

Kedua bocah ini, punya hubungan erat. Toriq adalah guru, sedangkan Faris muridnya. Di lintasan karapan, keduanya merupakan rival.

Toriq lahir di Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan. Ia mengaku, mengenal lintasan karapan sapi saat duduk di bangku kelas III SD, ketika diajak menonton perlombaan.

Setahun kemudian, ia mulai belajar menjadi tokang tongkok, sebutan bagi joki karapan sapi. Pamannya, yang pernah menjadi joki, menjadi tempatnya berlatih.

“Pasti jatuh, Mas,” kata Toriq, kepada Maduranet, sambil mengenang masa-masa awal latihan.

Ia beberapa kali terjatuh, sebelum terbiasa mengendalikan keseimbangan di atas pasangan sapi yang berlari kencang.

Kini, enam tahun menjadi joki, Toriq mengaku sudah tak menghitung berapa kali sapi yang ditungganginya meraih juara. Ia pernah berlaga dari tingkat kabupaten hingga Gubeng, ajang yang kini kembali ia incar.

“Saya sudah mengamankan enam tiket ke Gubeng nanti,” ujarnya.

Menurut Toriq, kunci menjadi joki bukan menghilangkan rasa takut, melainkan berlatih menjaga keseimbangan. Kecepatan sapi kerap bisa mencapai 38–43 kilometer per jam. Dalam laju itu, joki harus menjaga tubuh tetap stabil hingga garis akhir.

”Selain memang fisik yang dilatih, mental juga harus stabil saat memacu,” ucap dia.

Lain pula dengan Faris, bocah asal Desa Dasuk, Kabupaten Sumenep. Ia memilih belajar kepada Toriq setelah tertarik melihat karapan sapi. Ia mulai menjadi joki sekitar dua tahun lalu. Kini, murid itu juga mengincar Gubeng Piala Presiden dan telah mengantongi tiga tiket.

“Saya belajar ke Kak Toriq ini,” kata Faris.

Baginya, Toriq bukan hanya guru, melainkan juga teman dan lawan di lapangan. Faris pun menyimpan cita-cita memiliki sapi kerap sendiri. Ia mengaku mendapat dukungan keluarga, ayah dan ibunya yang biasa mengantar sekaligus menonton perlombaan.

Pada final karapan sapi 2026 dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pamekasan itu, penonton bertahan di tepi lintasan meski cuaca panas dan debu beterbangan.

Tak Mau Dimadu keluar sebagai juara pertama, disusul Anti Virus dan Tampel Sakti 99.

Exit mobile version