PAMEKASAN, MADURANET – Di balik keanggunan tarian klasik Serimpi, tersimpan kisah cinta yang melekat kuat pada sejarah hubungan budaya antara Keraton Surakarta dan Pamekasan, Madura.
Serimpi Ludiro Madu yang disingkat Ludiromadu menjadi bukti estetika kultural sekaligus pernyataan kebanggaan darah Madura yang diabadikan dalam seni tari keraton.
Hal itu disampaikan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng saat mengunjungi makam Adipati Tjakra Adiningrat I di Kelurahan Kolpajung, Pamekasan, Senin (16/2/2026).
“Dengan kebanggaannya, Serimpi Ludiro Madu itu digambarkan tidak ada orang sebaik ibunya di dunia dan dikatakan jika ia berdarah Madura,” ujar putri raja yang akrab disapa Gusti Moeng ini.
Menurut dia, tari Ludiro Madu diciptakan sebagai karya seni yang menggambarkan cinta dan kebanggaan terhadap ibu. Tarian itu lahir dari naluri emosional keluarga kerajaan Keraton Surakarta Hadiningrat.
”Saking cintanya BP IV dan anaknya terhadap Raden Ajeng Handoyo,” ucapnya.
Gusti Moeng menceritakan, kisah itu bermula pada abad ke-18, ketika Pakubuwono IV memingit Raden Ajeng Handoyo, putri tertua Adipati Tjakra Adiningrat I di Pamekasan sejak berusia 8 tahun. Saat itu, Pakubuwono IV masih sebagai putra mahkota calon raja Keraton Surakarta dan mondok di kawasan Bekonang.
”Setelah baligh, Pakubuwono IV menikahi Raden Ajeng Handoyo dan dikaruniai seorang putra bernama Gusti Sugandhi,” tambahnya.
Namun, saat Gusti Sugandhi berusia 1,5 tahun, ibunya wafat. Pakubuwono IV kemudian naik tahta tanpa permaisuri.
“Untuk menyambung tali keluarga, Pakubuwono IV menikahi adik kandung Raden Ajeng Handoyo, yakni Raden Ajeng Sukaptinah dan memiliki keturunan Raden Mas Malikis Solikin,” ungkapnya.
Gusti Moeng menuturkan, Raja Keraton Surakarta, Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VII diisi Raden Mas Malikis Solikin, merupakan salah satu raja berdarah Madura.
Ia melanjutkan, Putra Pakubuwono IV dari Raden Ajeng Sukaptinah itulah yang kemudian menjadi Pakubuwono VII. Saat itu, Pakubuwono VI diasingkan VOC ke Maluku hingga meninggal di Ambon. Sementara putranya masih dalam kandungan.
“Saat putra Pakubuwono VI berusia 9 tahun, ia ditembak oleh Belanda, sedangkan keturunannya belum bisa meneruskan tahta, raja diisi pamannya, yaitu Pakubuwono VII yang merupakan putra Pakubuwono IV dari Raden Ajeng Sukaptinah dari Pamekasan,” kata Gusti Moeng.
Ia menegaskan, dua permaisuri Pakubuwono IV berasal dari Pamekasan. Satu permaisuri saat belum bertahta, dan satu permaisuri setelah menjadi Raja Keraton Surakarta.
Gusti Moeng juga menyampaikan telah menyerahkan buku hasil alih aksara dan alih bahasa yang berisi sejarah perjalanan utusan Keraton Surakarta menuju Pamekasan. Dalam catatan itu dikisahkan perjalanan utusan keraton bersama Kiai Rojomolo ke Madura menggunakan perahu sepanjang 36 meter dan lebar 8 meter, diiringi bunyi gamelan sepanjang perjalanan.
Perjalanan dimulai dari Bengawan Solo, melintasi Gresik hingga akhirnya tiba di Pamekasan, Madura.
“Sinuhun Pakubuwono IV benar-benar jatuh hati ke Raden Ajeng Handoyo. Beliau membuat kapal besar untuk mengungkapkan ingin beristrikan Raden Ajeng Handoyo,” ujarnya.
Dari hubungan emosional itulah lahir Serimpi Ludiromadu. Tarian tersebut menggambarkan sosok ibu yang bijaksana sekaligus identitas darah Madura dalam lingkungan keraton.
“Dengan kebanggaannya, pada Serimpi itu digambarkan tidak orang sebaik ibunya dan digambarkan jika ia berdarah Madura. Sejak itu, generasi ke generasi berlangsung hingga Pakubuwono XII, baru ke saya,” katanya.
Diketahui, Pakubuwono VII memerintah Keraton Surakarta pada 1830 hingga 1858, setelah masa VOC berakhir, dan wafat pada 10 Mei 1958.
Menurut Gusti Moeng, Ludiromadu bukan sekadar tarian klasik, tetapi medium simbolik yang merayakan hubungan darah dan kebanggaan budaya. Melalui gerak dan pakem keraton, jejak darah Madura tetap hidup dalam sejarah Keraton Surakarta.
