PAMEKASAN, MADURANET – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) menggelar praktik manasik haji dan umrah bagi ratusan santri pada 24–26 Mei 2026 sebagai bagian dari pembentukan kesadaran spiritual dan karakter santri.
Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan manasik haji tidak hanya dipahami sebagai simulasi ritual ibadah, melainkan juga perjalanan spiritual untuk mengenalkan manusia pada makna penghambaan kepada Allah.
“Manasik haji sejatinya bukan hanya kegiatan pembelajaran ritual, tetapi sebuah ikhtiar besar membimbing jiwa santri agar mengenali makna keberadaan dirinya di hadapan Allah,” ujar Muhlis, Ahad (24/5/2026).
Ia memaparkan, sebanyak 326 santri tingkat MTs dan MA mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pembelajaran keterampilan proses manasik, asesmen keterampilan ibadah, hingga simulasi pelaksanaan ibadah haji dan umrah secara utuh.
Muhlis menjelaskan, dalam tradisi Islam klasik, ibadah haji dipandang sebagai perjalanan ruhani manusia menuju kesadaran ketuhanan.
Ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang menyebut setiap rangkaian ibadah haji mengandung simbol perjalanan akhirat manusia.
“Ketika seseorang meninggalkan rumah menuju tanah suci, sesungguhnya ia sedang dilatih meninggalkan keterikatan dunia menuju Allah,” katanya.
Menurut guru besar tersebut, simbol-simbol dalam ibadah haji memiliki makna mendalam dalam pembentukan kepribadian santri.
“Saat mengenakan ihram, misalnya, santri diajak memahami bahwa seluruh manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah tanpa membawa status sosial maupun kekayaan,” ujarnya.
Muhlis menilai pendidikan spiritual semacam itu penting di tengah kehidupan modern yang sarat pencitraan sosial dan materialisme.
Ia menjelaskan, pembelajaran manasik di IBS PKMKK juga dipadukan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan filsafat Islam agar santri memahami hikmah di balik setiap ritual ibadah.
Ketika mempelajari thawaf, kata dia, santri diajak memahami bahwa hidup manusia harus berpusat pada nilai ketuhanan.
“Thawaf melambangkan bahwa seluruh gerak hidup manusia seharusnya berputar mengelilingi Allah sebagai pusat eksistensi,” katanya.
Sementara sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah dimaknai sebagai simbol perjuangan manusia dalam berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.
Muhlis menambahkan, puncak spiritualitas haji berada pada wukuf di Arafah yang dimaknai sebagai ruang kontemplasi dan pengenalan diri.
“Manasik menjadi ruang sunyi yang mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah lahir dari kemampuan manusia mengenali dirinya secara jujur,” ujarnya.
Selain aspek spiritual, ia menilai, kegiatan tersebut juga memperkuat solidaritas antar-santri melalui ritual kolektif yang menanamkan nilai kesetaraan.
Menurut Muhlis, praktik manasik haji di IBS PKMKK merupakan bagian dari upaya pesantren mengintegrasikan spiritualitas Islam, ilmu pengetahuan, dan pendidikan modern.
“Pesantren hari ini tidak hanya menjadi ruang transmisi tradisi keagamaan klasik, tetapi juga laboratorium peradaban yang menghubungkan nilai Islam dengan kebutuhan zaman modern,” katanya.
Kegiatan tersebut dibimbing sejumlah pembimbing bersertifikat dan akademisi, di antaranya, Achmad Muhlis, Mohammad Holis, Heni Listiana, Wiqayah Hilmi, Nurul Umayah, Abd Qadir Maliki, Ahmad Humaidi, dan Samsul Arifin.
