PAMEKASAN, MADURANET – Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Tenaga Kerja (Diskop UMKM dan Naker) Kabupaten Pamekasan tengah menyusun naskah akademik sebagai landasan penataan dan pemaksimalan aktivitas pedagang kaki lima (PKL) di wilayah tersebut.
Kepala Diskop UMKM dan Naker Pamekasan, Achmad Sjaifuddin, mengatakan penyusunan naskah akademik ini berangkat dari dinamika PKL yang selama ini berkembang di sejumlah titik kota.
“Perihal dinamika PKL di Pamekasan, kami saat ini sedang menyusun naskah akademik untuk memaksimalkan PKL di Pamekasan,” ujar Achmad saat ditemui di kantornya, Kamis (8/1/2026).
Menurut dia, pihaknya telah mengumpulkan berbagai catatan dari setiap sentra PKL, termasuk persoalan yang kerap muncul di lapangan. Catatan tersebut akan dijadikan dasar untuk merevitalisasi kembali sejumlah kawasan PKL yang dinilai belum optimal.
“Naskah tersebut berisi catatan dari setiap pedagang dan dinamika yang berkaitan, termasuk solusi masalahnya. Itu nanti akan kami gunakan untuk menjadi landasan merevitalisasi lagi sejumlah sentra PKL,” jelasnya.
Achmad menyebut, ada beberapa lokasi yang telah masuk dalam daftar revitalisasi, di antaranya Sentra PKL Sae Salera di Jalan Dirgahayu, Food Colony di Jalan Kesehatan, serta kawasan eks PJKA (Tapsiun) di Jalan Trunojoyo.
Di lokasi-lokasi tersebut, Diskop UMKM dan Naker berencana melakukan penataan ulang agar kawasan PKL terlihat lebih rapi dan menarik bagi masyarakat. Penataan juga diarahkan pada keseragaman fasilitas yang digunakan pedagang.
“Di Yogyakarta bisa rapi, kenapa kita tidak bisa rapi. Contoh, semua tempat itu nanti seragam. Kalau pakai payung ya payung semua,” kata Achmad.
Ia menilai, kondisi PKL di Pamekasan saat ini masih terlihat semrawut karena penggunaan fasilitas yang tidak seragam.
“Di sini kan pakai terpal, dan warna-warni, setiap pedagang tidak sama warna terpalnya,” ujarnya.
Achmad juga menyinggung persoalan PKL yang kerap berjualan hingga ke badan jalan. Menurut dia, kondisi itu terjadi karena pedagang berupaya mengejar pembeli.
“Di naskah itu, permasalahan PKL yang tumpah ke jalan-jalan, dikarenakan mengejar pembeli. Maka dari itu, kita usahakan tempat mereka jadi ramai, baik dengan menambah tempat hiburan atau penambahan fasilitas,” tutur dia.
Hasil monitoring di lapangan menunjukkan, banyak pedagang yang berjualan di area terlarang sebenarnya telah memiliki lapak resmi di sentra PKL yang disediakan pemerintah.
“Contohnya yang di Jalan Trunojoyo itu, mereka punya lapak di eks PJKA,” ungkap Achmad.
Melalui naskah akademik yang tengah disiapkan, Diskop UMKM dan Naker berharap, dapat merumuskan solusi komprehensif untuk pemaksimalan PKL di Pamekasan, sekaligus menjadi dasar kebijakan penataan ke depan agar tertib, nyaman, dan tetap mendukung aktivitas ekonomi pedagang kecil.













