MADURANET – Kabar duka datang melalui grup Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) Minggu (21/12/2025), saat kawan-kawan pengurus dan anggota, baru saja menuntaskan Kongres AJP XII di Kota Batu, Jawa Timur. Kabar itu masih samar, “Apakah benar Masdawi wafat hari ini?”. Begitu isi pertanyaan dalam obrolan AJP.
Tentu itu bukan kabar burung, namun benar-benar kabar duka. Kabar duka ini merupakan kabar susulan dari kabar baik sebelumnya bagi AJP, karena buku Pamekasan Mencari Identitas, Masdawi termasuk salah satu penulis di dalam buku tersebut, telah terbit International Standard Book Number (ISBN).
Masdawi dalam buku itu menulis, “Potret Budaya: Tatanan Sosial dan Budaya”. Masdawi mengulas tentang problem kebudayaan, kesenian dan hiburan di bawah kepemimpinan Pamekasan, KH. Kholilurrahman dan Sukriyanto. Problem kebudayaan di Pamekasan, selalu dipertentangkan dengan nilai-nilai luhur dan moral agama.

Sebelum wafat, Masdawi masih menyempatkan diri meminta buku yang ditulisnya kepada ketua AJP, Khairul Umam, untuk diantarkan ke rumahnya. Masdawi pada saat peluncuran buku itu, pada malam AJP Award di Azaya Style, sedang sakit sehingga tidak dapat hadir. Bahkan, ia masih berkabar melalui voice note bahwa kondisi kesehatannya sudah semakin membaik.
Tulisan di buku itu, termasuk tulisan terakhir Masdawi sebelum terbaring sakit hingga wafat. Tulisan itu dibuat penuh semangat, di tengah para jurnalis yunior sedang tidak produktif membuat tulisan opini. Kondisi itu menjadi keprihatinan Masdawi secara pribadi. Ia mengkritik jurnalis yunior dari berbagai banyak hal, termasuk dalam produktivitas tulisan opini.
Masdawi tidak hanya pandai menyampaikan kritik, namun ia memberikan teladan dengan tulisan-tulisan opini di koran, dimana ia bekerja. Setiap hari, ia membagikan potongan layar berisi tentang tulisannya di kolom opini koran Global News. Terkadang, tulisan-tulisannya masih didiskusikan dengan tajam oleh teman-teman AJP.
Bagi saya, sosok Masdawi Dahlan yang saya kenal sejak tahun 2008 waktu pertama kali saya bergabung dengan AJP, merupakan senior yang terbuka dalam segala hal. Berita yang ia tulis, opini yang ia buat, bebas dikritik oleh yuniornya sekalipun. Apakah ia marah? Tidak, sama sekali tidak. Ia mencoba membuka wawasan berdasarkan background dirinya sebagai mantan aktivis dengan berbagai literatur yang ia pahami.
Semakin senior, Masdawi semakin bijak dan semakin produktif. Ia mengalahkan para yuniornya dalam hal produktivitas tulisan opini. Opsi ini ia pilih karena dukungan redaksi kantornya, sekaligus karena menyadari keterbatasan dirinya untuk bersaing dengan para yuniornya dalam hal kecepatan menyerap informasi di lapangan. Meskipun dirinya tidak ingin bersaing dalam hal apapun dengan para yuniornya, namun faktanya, harus diacungi jempol bahwa Masdawi memang panutan.
Kepergian Masdawi di dunia jurnalistik, menyisakan teladan bagi para yuniornya. Bukan hanya soal produktivitas, melainkan bagaimana ia menyikapi kritikan, bahkan menurut saya hinaan.
Suatu waktu, Masdawi pernah bercerita bahwa dirinya disepelekan oleh para yuniorya, lantaran dirinya tidak pernah mengenyam dunia uji kompetensi wartawan. Dirinya dianggap bukan wartawan tidak kompeten karena tidak mengantongi sertifikat uji kompeten.
Sebagai waratwan senior, Masdawi tidak begitu mempersoalkan itu. Sebab, bagi dirinya, kompetensi tidak diukur dari selembar kertas sertifikat, namun dedikasi dan profesionalisme itu ditunjukkan dalam bentuk karya. Masdawi tidak begitu tega meladeni penyepelean oleh yuniornya itu.
Begitulah Masdawi begitu sabarnya meladeni para yunirnya, karena dirinya tahu bahwa para yuniornya itu belum pernah merasakan getirnya dunia jurnalis seperti saat dirinya mengawali karirnya awal 90-an.
Selamat jalan Masdawi, produktivitas dan kesabaranmu telah dicatat. Lembaran-lembaran koran, link web, serta buku yang engkau tulis, menjadi bukti bahwa engkau memang journalis legend.













