PAMEKASAN, MADURANET – Menjadi Guru Besar sering dipandang sebagai puncak karier akademik. Gelar ini identik dengan keberhasilan intelektual, reputasi ilmiah, dan pengakuan institusional. Namun pertanyaannya sederhana, setelah sampai di puncak, lalu untuk apa?.
Momentum pengukuhan 116 profesor rumpun ilmu agama oleh Menteri Agama Republik Indonesia memberi kita bahan renungan penting. Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa Guru Besar bukan sekadar gelar akademik, melainkan amanah keilmuan dan moral. Guru Besar diharapkan menjadi mursyid, pembimbing, bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat.
Pesan ini terasa relevan di tengah dunia akademik yang kian sibuk dengan urusan angka, angka publikasi, angka sitasi, angka kredit, dan peringkat. Semua itu memang penting, tetapi jika berhenti di sana, ilmu bisa kehilangan ruhnya. Kampus menjadi tempat produksi pengetahuan, tetapi miskin keteladanan. Dosen pandai berbicara teori, namun absen dalam memberi contoh.
Dalam tradisi Islam, ilmu bukan hanya soal pintar, tetapi juga soal bersihnya niat dan akhlak. Al-Qur’an mengajarkan bahwa proses pendidikan dimulai dari membaca ayat-ayat Allah, dilanjutkan dengan penyucian diri, baru kemudian pengajaran ilmu dan hikmah. Artinya, karakter dan integritas seharusnya mendahului kepandaian. Jika urutan ini dibalik, ilmu bisa menjadi kering dan bahkan berbahaya.
Di sinilah peran Guru Besar menjadi sangat strategis. Guru Besar bukan hanya pakar di bidangnya, tetapi juga rujukan moral. Ucapannya didengar, sikapnya ditiru, dan pandangannya memengaruhi arah keilmuan. Karena itu, Guru Besar seharusnya tampil sebagai sosok yang menenangkan, mencerahkan, dan menyatukan, bukan sekadar sibuk membangun menara gading akademik.
Tantangan lain yang tak kalah penting adalah krisis ekologis. Dunia sedang menghadapi kerusakan lingkungan yang serius. Kampus dan para akademisi tidak boleh diam. Menteri Agama mengingatkan pentingnya ekoteologi dan kurikulum cinta, agar ilmu yang diajarkan tidak merusak, tetapi merawat bumi. Guru Besar punya peran besar untuk menanamkan kesadaran ini, baik melalui riset, pengajaran, maupun keteladanan hidup.
Opini ini bukan untuk menafikan prestasi akademik. Ppublikasi, riset, dan inovasi tetap penting. Namun semua itu perlu diarahkan pada tujuan yang lebih besar, yakni kemaslahatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. Guru Besar yang ideal adalah mereka yang ilmunya tinggi, tetapi hatinya tetap membumi.
Sudah saatnya kita memaknai ulang gelar Guru Besar. Bukan sekadar simbol keberhasilan pribadi, tetapi tanggung jawab sosial dan spiritual. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa ini bukan hanya orang-orang pintar, tetapi orang-orang bijak yang mau membimbing dan memberi arah.
Oleh: Achmad Muhlis, Guru Besar UIN Madura Bidang Ilmu Sosiologi Pendidikan Islam sekaligus Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan













