PAMEKASAN, MADURANET – Begitu nama alm Syaiful Bahri, mantan wartawan Kantor Berita Antara disebut oleh presenter AJP Award 2025, pada Selasa (9/12/2025) malam, tubuh Hotimah Aisyati (47), serasa terguncang. Perasaannya campur aduk. Wajahnya sembab. Kedua matanya berkaca-kaca. Sehingga tidak terasa kedua pipinya basah air mata.
Begitu juga, ketika di layar depan di atas panggung ditampilkan sosok alm Syaiful Bahri, berikut perjalanan kariernya, pandangan Hotim, panggilan istri alm Syaiful Bahri, seolah tidak berkedip tertuju pada layar. Sesekali mengusap wajahnya, seolah tidak kuasa menahan keharuan yang mendalam.
Ballroom Azana Style Hotel, yang sebelumnya penuh dengan suara sorak-sorai dan tepuk tangan, kala itu mendadak sunyi dan hening. Para undangan terenyuh, menyimak kalimat demi kalimat narasi yang menggambarkan kegigihan dan keuletan alm Syaiful Bahri dalam tugasnya sebagai jurnalis.
Kemudian, di kala keluarga alm Syaiful Bahri dipanggil naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan AJP Award, Hotim, yang duduk di kursi depan berdiri. Dengan langkah berat Hotim berjalan menuju panggung, disusul kedua putrinya Sylvyah Aisyah ( 20) dan Talita Luqyana Aisyah (15). Sedangkan anak sulungnya Syahru Royhan Al Bahri (21), memilih tetap duduk di kursi.
Almarhum Syaiful Bahri, yang sehar-hari dipanggil Siful, semasa hidupnya tidak kenal lelah dan totalitas dalam mengabadikan setiap momen. Namun akhirnya Siful, yang tergabung dalam wadah Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), meninggal dunia di RS Slamet Martodirjo, Pamekasan, dalam tugasnya di saat meliput wabah Corona Virus Disease (Covid) 19, pada Kamis (1/7/2021), sekitar pukul 06.20.
Di atas podium, dengan kalimat terbata-bata Hotim mengaku tidak menyangka mendapat penghargaan spesial dari AJP untuk almarhum suaminya, apalagi disebut sebagai pahlawan pejuang Jurnalis.
“Penghargaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, tropi penghargaan ini saya persembahkan untuk almarhum suami saya, Bang Siful dan teman-teman AJP,” kata Hotim, sambil mengangkat tropi yang dipegangnya.
Hotim, guru Agama Islam di SDN Lawangan Daya 2 dan malam harinya guru ngaji di Baitul Qur’an, Masjid Al-Arqom, Kelurahan Bugih, Pamekasan, menyatakan, ketika dirinya
menerima sepucuk surat undangan AJP Award, kenangan manisnya bersama almarhum suaminya, muncul kembali dalam benaknya.
Wanita yang mengaku masih belum bisa melupakan mendiang suaminya itu, hidup berumah tangga dengan alm Siful selama 18 tahun. Ia menikah pada 2003 dan Siful menghembuskan nafas terakhir 2021 di usia 53 tahun.
“Dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya, Bang Siful profesional. Di lapangan, Bang Siful sering mengambil risiko, tanpa mempehatikan keselamatan dirinya, demi tuntasnya tugas yang diembannya karena sudah menyatu dengan pekerjaannya,” ujar Hotim kepada Maduranet, Kamis (11/12/2025).
Kemudian Hotim mengungkit kembali betapa gigih dan cintanya terhadap pekerjaanya, beberapa kali alm Siful nyaris kehilangan nyawanya. Seperti saat meliput ke gunung Bromo, kakinya terpelset. Tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh ke dalam kawah.
Selanjutnya, ketika meliput banjir bandang di Jember, tubuhnya hampir jatuh ke sungai yang airnya bercampur batu mengalir deras. Termasuk juga waktu naik perahu bersama teman-teman jurnalis, di perairan Bali, perahu yang ditumpangi oleng hendak tenggelam, dihantam ombak besar dan hujan deras.
Lalu Hotim mengungkapkan, di antara kenangan manis bersama alm Siful, selama berumah tangga, ia belum pernah mendengar kata-kasar dari alm Siful. Ia merasakan alm Siful bukan sekadar suami, tetapi seperti seorang ayah, yang membimbing dan penuh kasih sayang terhadap keluarga. Baginya, alm Siful sebagai tempat berteduh di kala dirinya dilanda kesedihan.
“Dalam beribadah, alm Bang Siful benar-benar luar biasa. Setiap berangkat kerja, tidak lupa membawa baju dan sarung ganti untuk dipakai saat menjalankan salat lima waktu. Bagi saya, figur seperti Bang Siful tidak akan pernah tergantikan,” kenang Hotim.
Taufiqur Rahman Khafi, mantan jurnalis KOMPAS.com yang juga rekan kerja Siful menuturkan kenangannya saat menjalani profesi dengan almarhum. Menurut Taufik, Siful merupakan wartawan profesional dan sosok pengayom kepada yunironya. Siful tidak pelit terhadap pengetahuannya dalam dunia berita dalam foto.
“Di lapangan, Bang Siful itu sering memberikan ilmu dengan tekhnik fotografi yang bagus. Bahkan tekhnik-tehnik yang anti mainstream ia berikan ilmunya. Pantas kalau almarhum itu sering memenangkan kejuaraan fotografi,” kenang Taufik.
Sementara Ketua Panitia AJP Award 2025, Zainul Atikurrahman mengatakan, pemberian anugerah dan penghargaan kepada 27 nominator, baik individu, organisasi dan institusi, merupakan waktu yang tepat dalam perannya dan konsisten pada hasil karyanya.
Ketua AJP, M Khairul Umam, dalam sambutannya menyatakan, selama ini AJP memiliki komitmen yang kuat dalam menjunjung tinggi profesionalisme dalam tugasnya sebagai jurnalis, tanpa mengesampingkan tanggung jawabnya di bidang sosial dan rasa kemanusiaan.
Selain pemberian penghargaan, AJP launching buku, karya rekan-rekan AJP bertajuk ‘Pamekasan Mencari Identitas’, sekaligus juga launching Rumah Singgah di Surabaya, untuk keluarga pasien tidak mampu yang dirawat inap di rumah sakit Surabaya.













