PAMEKASAN, MADURANET — Keris sepuh yang diyakini berasal dari masa akhir Kerajaan Singosari atau awal Majapahit menjadi bukti sejarah keterhubungan kerajaan Madura dengan masa kejayaan kerajaan di Nusantara.
Keris tersebut merupakan warisan dari keluarga Pahlawan Nasional M. Tabrani, yang kini dirawat oleh seniman dan pelestari pusaka asal Pamekasan, Arief Wibisono.
Arief menyebut, keris ini adalah pemberian dari ibunya yang masih ada kekerabatan dengan keluarga M. Tabrani. Keris ini dahulu merupakan milik R. Panji Soeradi Soerowitjitro, ayah M. Tabrani, seorang bangsawan dan pegawai pemerintah pada zamannya.
“Keris ini memiliki lekukan 9, biasanya dipercaya bisa membantu seseorang memperoleh kekuasaan dan menjadikannya seorang pemimpin yang baik dan berkarisma dengan pengikut yang patuh dan menghormatinya ,” ujar Arief, ditemui di Rumah Budaya Pelestarian Keris Pamekasan, Selasa (2/12/2025).
Menurutnya juga, luk sembilan ini juga bisa dipegang oleh seorang pemimpin keagamaan. Menjadikannya sebagai pemimpin yang dihormat dan disegani oleh para pengikutnya. Pamor keris ini berpamor Klareh Sakongkong dalam istilah Madura atau blarak sineret (Jawa), sangat kuat aura filosofis yang kepemimpinan yang menyertainya.
Dari karakter tembaga, Arief menilai keris itu estimasi berasal dari tangguh Singosari, zaman ketika keris bukan sekadar senjata saja, tapi mulai melambangkan simbol strata dan kasta dalam status sosial didalam masyarakat pada waktu itu.
M. Tabrani merupakan tokoh penting dalam sejarah bangsa. Ia dikenal sebagai jurnalis pergerakan nasional, tokoh Jong Java, serta pelopor penggunaan bahasa Indonesia. Atas kiprahnya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2023.
“Kita tidak hanya mewarisi nama besar beliau sebagai tokoh bahasa dan pers Indonesia, tapi juga warisan budaya yang ikut membentuk karakter keluarga,” kata Arif.
Baginya, merawat keris milik keluarga M. Tabrani adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan sang tokoh dan leluhurnya.
Arief mengaku harus mengorbankan banyak hal demi menyelamatkan pusaka tersebut dari ancaman hilang atau diperjualbelikan keluar Madura.
“Saya mengabdikan diri untuk pusaka seperti ini. Mengorbankan harta sampai jutaan bahkan puluhan juta, yang penting warisan budaya tidak hilang,” ucapnya.
Menurutnya, keris adalah arsip sejarah yang merekam peradaban sebuah bangsa.
“Keris punya sandi-sandi pada zamannya. Ia merekam budaya dan karakter masyarakatnya,” tambahnya.
Dalam konteks sosial budaya Madura, jelas Arief, keris tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka, tetapi juga penanda kehormatan.
”Keris juga memiliki strata. Pertama Keris Dhaleman atau Keraton, yang diperuntukkan untuk kaum bangsawan. Kedua ialah Keris Dusun yang digunakan oleh masyarakat non bangsawan atau masyarakat umum yang hidup dalam lingkungan istana atau kraton.
ia menegaskan, kisah Keris M. Tabrani bukan hanya tentang pusaka logam berusia ratusan tahun, melainkan warisan kepemimpinan, intelektual, dan martabat orang Madura, yang harus diteladani.













