PAMEKASAN, MADURANET — Upaya pelestarian budaya Madura kini menyentuh ranah intelektual dan spiritual. Universitas Islam Negeri (UIN) Madura meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas keberhasilan mentransliterasi terjemahan Al-Qur’an berbahasa Madura ke aksara Carakan Madura.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Madura, Moh Mashur Abadi, menjelaskan bahwa transliterasi bermula dari penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Madura oleh lembaga khusus yang telah dibentuk sebelumnya.
“Awalnya ada tim LP2Q yang melakukan pengkajian dan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Madura,” ujar Mashur, Senin (1/11/2025).
Ia menyebut, Lembaga Penerjemah dan Pengkajian Al-Qur’an (LP2Q) melibatkan para ahli bahasa, ulama, dan akademisi.
“LP2Q ini terdiri dari UIN Madura, Yayasan Pakem Maddhu, dan ulama Madura di bawah pimpinan Kiai Lailur Rahman, Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qura Plakpak Pamekasan,” jelasnya.
Mashur menambahkan, unsur lain dalam LP2Q berasal dari Jamaah Pengajian Surabaya (JPS), pakar bahasa Madura dari Pakkem Madu, serta jaringan ulama Madura lainnya.
Mashur mengungkapkan bahwa motivasi awal transliterasi adalah menjadikan budaya Madura melekat pada sesuatu yang sakral, sehingga keberlangsungannya terjaga lintas generasi.
“Untuk melestarikan dan memuliakan budaya Madura, cara yang paling strategis adalah melekatkannya pada sesuatu yang sakral,” ungkapnya.
Langkah tersebut diwujudkan setelah penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa Madura rampung. Pada 2023, gagasan dialih aksarakan ke Carakan Madura, mulai digarap sebagai bentuk pemuliaan sekaligus pelindung nilai budaya.
“Setelah kita berhasil memiliki Al-Qur’an berbahasa Madura, dilanjutkan di 2023 sebagai benteng budaya. Al-Qur’an berbahasa Madura ini disalin dalam Carakan Madura,” tuturnya.
Hingga kini, 10 juz berhasil dialihaksarakan. Mashur berharap sisanya dapat selesai pada tahun mendatang.
“Saya menunjuk tim dan baru dapat 10 juz, 20 juz insyaallah tahun depan. Semoga sukses, amin,” ujarnya.
Rektor UIN Madura, Syaiful Hadi, menuturkan bahwa tujuh orang tim telah bekerja intensif selama enam bulan untuk menyelesaikan 10 juz tersebut.
“Semoga tahun berikutnya, atau enam bulan ke depan, 20 juz dapat diselesaikan,” harapnya.
Syaiful menegaskan bahwa transliterasi ini merupakan komitmen kampus dalam menjaga identitas budaya Madura serta memperluas akses literasi keagamaan yang dekat dengan masyarakat.
“Transliterasi ini sebagai upaya menjaga warisan budaya masyarakat Madura. Selain itu, ini juga hadiah bagi warga Madura atas alih status kampus dari IAIN menjadi UIN Madura,” pungkasnya.













