PAMEKASAN, MADURANET– Bupati Pamekasan Kholilurrahman menegaskan bahwa penataan Sentra Perdagangan Kaki Lima (PKL) Sae Rasa harus dilakukan tanpa mengorbankan penghidupan para pedagang. Hal itu ia sampaikan dalam audiensi bersama Paguyuban PKL Sae Rasa di Pringgitan Dalam Pendopo Ronggosukowati, Sabtu (22/11/2025).
Dalam pertemuan yang diwarnai penyampaian berbagai keluhan dan usulan pedagang, mulai fasilitas payung meja yang rusak, kios kosong, PKL liar, hingga persoalan parkir, Bupati menekankan bahwa pendekatan pemerintah tidak boleh bersifat konfrontatif.
“Mengeluarkan pedagang dari dalam itu tidak mudah dan tidak boleh dilakukan sepihak. Kita butuh komunikasi intens. Mari pikirkan bersama solusinya tanpa merugikan siapa pun,” ujar Bupati.
Menanggapi rusaknya fasilitas payung meja yang sudah hampir dua tahun tidak dapat digunakan, Bupati menyatakan bahwa perbaikan akan dilakukan sesuai kemampuan anggaran.
“Itu kira-kira bisa direhab tidak. Kita lihat dulu kondisinya, lalu lakukan perbaikan bertahap sesuai kemampuan fiskal daerah,” ucapnya.
Bupati juga menilai sejumlah persoalan internal seperti jual beli lapak oleh oknum dan banyaknya kios yang ditinggalkan setelah hanya beberapa bulan diisi sebagai masalah yang harus diselesaikan bersama.
Mengenai keluhan PKL atas keberadaan pedagang dan PKL liar di area sekitar, Bupati meminta Satpol PP tetap melakukan penertiban tetapi dengan pendekatan tanpa mencederai unsur humanis.
“Saya senang paguyuban punya komunikasi baik dengan Satpol PP. Kita tertibkan dengan aturan, tapi tetap mengutamakan dialog,” katanya.
Untuk mengatasi sepinya pengunjung dan banyaknya kios kosong, Bupati mengusulkan adanya kegiatan rutin yang dapat menarik masyarakat.
“Saya setuju dibuat event bulanan. Bisa lomba baca puisi, nyanyian anak-anak, bahkan stand up komedi. Saya siap hadir kalau ada event seperti itu,” ujarnya disambut respons positif dari paguyuban.
Menurutnya, kegiatan-kegiatan tersebut dapat memicu daya tarik baru dan mendorong pedagang lain kembali mengisi kios yang kosong.
Menanggapi permintaan Wi-Fi gratis dan pengelolaan parkir, Bupati menyerahkannya kepada Sekda dan dinas terkait untuk ditindaklanjuti. Ia juga memberikan apresiasi atas kemandirian paguyuban yang telah memperbaiki musala dan menjaga kebersihan.
“Saya salut pada kerja bakti dan perbaikan musala. Itu menunjukkan komitmen menjaga kawasan tetap nyaman,” ujarnya.
Bupati juga membuka peluang pembongkaran fasilitas yang mengganggu aktivitas PKL, termasuk kolam di area depan yang menyulitkan parkir.
“Kalau memang mengganggu dan solusinya dibongkar, ya bongkar saja. Yang penting area lebih tertata dan tidak mengganggu aktivitas pengunjung,” katanya.
Audiensi yang berlangsung lebih dari satu jam itu ditutup dengan penegasan Bupati bahwa pemerintah akan menata Sentra PKL Sae Rasa secara bertahap, tetap berada dalam rambu anggaran, dan mengutamakan sinergi.
“Kita jaga keseimbangan anggaran, tapi langkah perbaikan tetap berjalan. Semua harus dilakukan step by step,” ujarnya.
Paguyuban Sae Rasa menyambut positif arah kebijakan tersebut dan berharap ruang dialog rutin terus dilakukan guna memastikan penataan PKL berjalan berkeadilan dan mendukung keberlanjutan ekonomi para pedagang.













