PAMEKASAN, MADURANET — Di bawah langit Galis yang mulai temaram, suara kendang terdengar bersahutan dengan gamelan. Di halaman Vihara Avalokitesvara, Dusun Candi Utara, Desa Polagan, denting gamelan dari kelompok karawitan Sanggar Panti Budaya bergema lembut. Suara saron dan gong bertukar nada seperti berbincang lirih.
Angin terdiam, tak ada daun bergerak, seolah enggan melintas agar tidak mengganggu latihan yang sedang berlangsung di Kamis malam (13/11/2025).
Di tengah para pemain, Sujiwo Tejo duduk dengan rambut panjangnya yang hampir semua memutih, menatap satu per satu wajah yang larut dalam latihan. “Pelan… rasa dulu yang dicari,” katanya sambil mengangkat tangan kanan, memberi isyarat pada pengendang.
Malam itu, di pertengahan November, bukan sekadar latihan biasa. Mereka sedang menyiapkan pementasan wayang kulit berbahasa Madura yang akan digelar di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya tanggal 15 nanti.

Tejo dengan nama asli Agus Hadi Sudjiwo, dalang, sastrawan, dan budayawan berdarah Madura ini, akan tampil bersama dalang asal Pamekasan. Sebuah kolaborasi, menyatukan tanean lanjhang (darah Madura) dan bahasa ibu yang kian jarang digunakan dalam pentas besar.
Rehearsal dimulai kaku. Para penabuh tampak tegang, mata menatap alat masing-masing, takut salah tempo di depan sang dalang dan seniman ternama. Tapi suasana berubah seketika saat Tejo melangkah ke tengah panggung latihan.
“Tenang… kesenian itu bukan soal hafal, tapi soal rasa. Hafal bisa diawur dulu, nanti diperbaiki,” ucap Tejo sambil tersenyum. Gelak tawa kecil pecah di antara para penabuh. Tegang hilang, suasana mengalir.
Sujiwo Tejo lalu mengambil alih latihan. Ia menirukan tembang Madura, memanjangkan satu suku kata, memendekkan yang lain. Irama pelan berpadu dengan pantun Madura yang ia ucapkan, setengah bernyanyi.
“Dinikmati! Jangan buru-buru. Nada itu seperti napas, kalau dipaksa malah putus,” katanya sambil menepuk lantai kayu.
Seketika gamelan mengikuti iramanya. Nada rebab, gong, dan saron saling berkejaran, mengisi ruang vihara yang sesekali disela improvisasi.
Ia melantunkan pantun Madura tua, “Gheik Bintang Ale’ Gagghar Bulan”, “Soto Madhura,”. Musiknya beri nuansa modern, agar kita tidak ketinggalan dan anak-anak muda suka,” sahut Tejo ditengah-tengah lantunan gamelan.
Pantun itu membuat ruangan sejenak hening. Suasana latihan berubah menjadi ritual kecil. Dalam setiap ketukan, ada kesungguhan, bukan hanya bunyi.
Ada yang unik malam itu. Pentas wayang kulit, warisan budaya Jawa dan Madura, justru digarap di tengah vihara, tempat ibadah umat Buddha.
Dari kejauhan, lampion di serambi vihara memantulkan cahaya ke wajah para penabuh. Tejo duduk bersila di depan kelir, menatap bayangan tokoh wayang yang tergambar samar di layar putih.
Kedua dalang, Novem Ali Sahos Sudirman dan Sujiwo Tedjo, akan mementaskan kisah seorang bernama Pokroseno yang hidup di kerajaan Mandhuro. Ia diangkat menjadi Baladewa setelah banyak mengalahkan musuh-musuhnya dalam pertempuran.













