PAMEKASAN, MANDURANET — Pemerintah Kabupaten Pamekasan terus berpacu untuk memaksimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah tekanan fiskal, akibat pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat yang mencapai lebih dari Rp 200 miliar pada tahun 2025.
Optimisme itu disampaikan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKPD) Pamekasan, Sahrul Munir, usai Rapat Evaluasi Pendapatan Asli Daerah dan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) di Kantor Bupati Pamekasan, Kamis (13/11/2025).
“Kami harapkan dan kami optimis PAD bisa tercapai 100 persen dari target. Kami terus berupaya mendorong seluruh sektor agar penerimaan meningkat, terutama dari pajak daerah yang menunjukkan kenaikan signifikan tahun ini,” ujar Sahrul Munir.
Pihaknya menjelaskan, hingga awal November 2025, realisasi PAD Pamekasan tercatat Rp 328 miliar dari target Rp 377 miliar, atau sekitar 81,76 persen.
Sahrul menambahka bahwa angka tersebut bersumber dari empat pos utama, yakni pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, serta lain-lain PAD yang sah.
Dari keempat sumber tersebut, tegas Sahrul, sektor pajak daerah menjadi penyumbang terbesar sekaligus tulang punggung keuangan daerah.
“Pajak daerah tahun ini menunjukkan tren kenaikan yang cukup luar biasa. Kami akan terus dorong sektor ini dengan perbaikan sistem dan penegakan disiplin pembayaran,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sahrul menyoroti pemotongan dana transfer pusat yang cukup besar. Menurutnya, kebijakan tersebut berpengaruh langsung terhadap dinamika ekonomi daerah.
“Dana transfer ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian daerah. Ketika dana itu turun, otomatis perputaran ekonomi juga ikut melambat, dan hal itu berimbas pada daya beli masyarakat,” terangnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, pihaknya tetap menargetkan realisasi PAD minimal setara dengan tahun sebelumnya. Pemerintah daerah, lanjut Sahrul, kini memfokuskan pada langkah-langkah optimalisasi untuk mempercepat arus penerimaan.
“Kami ingin memastikan PAD 2025 tidak turun dari tahun sebelumnya dan menjadi dasar bagi peningkatan di tahun 2026. Karena itu, evaluasi ini penting untuk memformulasikan strategi bagi setiap OPD penghasil, agar mampu mencapai target 100 persen,” pungkasnya.













