PAMEKASAN, MADURANET — Suasana Lapangan Nagara Bhakti tampak cerah meski awan mendung menggantung. Namun, semangat ratusan pelajar SMP/MTs yang memeriahkan lomba olahraga tradisional tak surut.
Para siswa berlarian, meniti enggrang, dan bersorak menyambut jalannya karapan sapi mini, bagian dari rangkaian Hari Jadi Pamekasan ke-495 yang digelar Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), Sabtu (1/11/2025).
Bupati Pamekasan Kholilurrahman dan Wakil Bupati Sukrianto hadir menyaksikan jalannya perlombaan. Keduanya terlihat menikmati antusiasme peserta. Bupati tampak ikut menonton keseruan pelajar meniti bambu dan memacu sapi mini.
“Enggrang dan karapan sapi bukan sekadar permainan. Ini adalah jati diri Madura,” ujar Bupati di hadapan peserta saat sambutan.
Menurut dia, kegiatan itu bukan sekadar hiburan, melainkan upaya serius merawat kearifan lokal agar tetap hidup di tengah derasnya arus digitalisasi.
Enggrang, katanya, mengajarkan keseimbangan dan ketekunan, sementara karapan sapi menanamkan sportivitas dan keberanian.
“Generasi Z dan Alpha dekat dengan teknologi, tetapi juga memikul tanggung jawab menjaga akar budaya,” katanya.
Kepala Disporapar Pamekasan Fathorrachman, turut hadir mendampingi Bupati dan Wakil Bupati. Sejumlah guru olahraga dari berbagai SMP di Pamekasan tampak mendampingi siswa mereka.
Suasana hangat terasa saat beberapa siswa jatuh-bangun meniti enggrang di atas lintasan. Sorak-sorai pelajar lain dan tepukan tangan penonton membuat jalannya lomba kian meriah.
Guru olahraga SMPN 8 Pamekasan, Fani Reza Safrijal, menyebut kegiatan ini penting bagi perkembangan karakter pelajar.
“Banyak pelajar sekarang lebih fokus pada gim daring. Kecerdasan sosial dan gotong royong mulai berkurang,” katanya.
Ia berpendapat, agenda seperti ini perlu dilestarikan agar anak-anak berkembang secara positif, tidak tergantung terhadap gadget.
“Menang atau kalah hal biasa. Yang terpenting adalah nilai, persahabatan, dan pengalaman yang kalian dapatkan,” kata Fani.
Pihaknya berharap kegiatan serupa menjadi agenda tahunan agar pelestarian budaya berjalan berdampingan dengan pembangunan sumber daya manusia.
“Upaya menjaga warisan budaya bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga membangun masa depan yang berakar kuat,” Pungkasnya.
Lomba olahraga tradisional ini diikuti oleh sekolah menengah pertama se-Kabupaten Pamekasan, termasuk diantaranya Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 29 Pamekasan.













