PAMEKASAN, MADURANET — Tak terasa putaran waktu sudah 25 tahun. Bahrawi (47), Hanafi (50) dan Mohammad Ali (48) mengajar di Madrasah Nurul Islam, di Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. Ketiganya, memulai pengabdiannya sejak tahun 2000.
Tanpa modal ijazah sarjana, ketiganya menjalani rutinitas sehari-hari. Selain mengajar di pagi hari, ketiganya melepas baju sebagai guru, menjadi petani di siang sampai sore hari.
Pilihan menjadi guru, menurut ketiganya adalah jalan jihad. Ilmu yang mereka peroleh saat menimba di salah satu pondok pesantren di Pamekasan, menjadi beban untuk diamalkan di tengah-tengah masyarakat.
“Demi mengamalkan ilmu, pagi hari saya mengajar. Kalau siang sampai sore, turun ke sawah menjadi petani,” ujar Muhammad Ali.
Setelah seperempat abad mengabdi, ketiga pria yang tinggal di Desa Sempong Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, tak pernah mengharapkan honor. Namun demikian, pihak lembaga tempat ketiganya mengajar, memberinya horor Rp 200 ribu per bulan.
“Sejak awal, kami sadar bahwa mengajar di sekolah swasta bukan jalan menuju kesejahteraan. Kami ikhlas dan honor bukan tujuan kami,” imbuhnya.
Meski begitu, semangat mereka di kelas tidak pernah padam. Mereka hadir setiap hari, meski perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu dan tenaga.
Keterbatasan tak menghalangi mereka menemukan kebahagiaan. Bagi ketiganya, sukses murid adalah upah yang tak ternilai. Sebagian besar mantan siswa kini bekerja sebagai guru, melanjutkan estafet pengabdian di dunia pendidikan.
“Kebahagiaan kami adalah ketika murid sukses. Itu hadiah terbesar,” ucap Ali.
Di saat para guru lain di Indonesia sibuk mengejar kesejahteraan melalui tunjangan sertifikasi, ketiganya memilih diam. Mereka sadar bahwa lulusan pesantren yang tak punya ijazah sarjana, tak akan mampu menembus dunia itu.
“Dedikasi kami tidak akan berhenti meski gaji seperti ini. Biarkan orang lain mengejar sertifikasi, kami istikamah di jalur pengabdian,” kata Ali.
Kisah tiga guru ini adalah potret nyata pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka bekerja ganda, mengajar di kelas sekaligus menggarap sawah, demi memastikan roda kehidupan terus berputar.
Bagi Mohammad Ali, Hanafi, dan Bahrawi, murid yang berhasil adalah gaji sejati, sebuah kebanggaan yang tidak bisa ditukar dengan rupiah.
“Rata-rata guru disini juga murid saya,“ pungkas Ali.













