PAMEKASAN, MADURANET — Kasus campak di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, memperlihatkan rapuhnya perlindungan imunisasi dasar di daerah. Dari 175 kasus positif campak hingga 7 September 2025, sebanyak 71 persen penderita tercatat tidak pernah diimunisasi.
Kondisi ini membuat Pamekasan masuk status kejadian luar biasa (KLB). Sebanyak 432 orang tercatat sebagai suspek, 175 di antaranya positif, dan 6 anak meninggal dunia. Mayoritas korban adalah anak di bawah usia lima tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, dr Saifudin, mengakui rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi oleh penolakan masyarakat dan minimnya pemahaman soal vaksinasi.
”Masyarakat ada yang menolak atau banyak yang tidak paham tentang vaksinasi,” kata Saifudin kepada Maduranet, Senin (8/9/2025).
Meski demikian, ia menegaskan Dinkes tetap melakukan edukasi baik secara langsung maupun melalui tokoh masyarakat dan media lokal. Upaya ini diharapkan dapat menekan laju penolakan sekaligus meningkatkan cakupan imunisasi.
Data Dinkes menunjukkan, capaian imunisasi campak di Pamekasan terus berfluktuasi dalam lima tahun terakhir. Tahun 2020 cakupan mencapai 85,50 persen, tetapi pada 2023 turun menjadi 79,52 persen. Pada 2025, hingga Agustus, cakupan terbaru 55,39 persen.
Di beberapa puskesmas, capaian bahkan di bawah 50 persen, seperti Panaguan (45,76 persen) dan Larangan Badung (48,32 persen). Kondisi ini berbanding lurus dengan tingginya kasus campak di wilayah tersebut. Panaguan, misalnya, mencatat 29 kasus positif, tertinggi di kabupaten.
Syarat resmi pemerintah untuk program imunisasi dasar sebenarnya sederhana: anak harus mendapat imunisasi campak (MR) minimal dua kali, yakni pada usia 9 bulan dan 2 tahun. Dosis tambahan diberikan saat anak masuk sekolah dasar.
Namun, di Pamekasan, aturan itu tidak terlaksana. Dari 175 kasus positif, 71 persen tidak pernah diimunisasi, 13 persen hanya mendapat imunisasi tidak lengkap, dan hanya 11 persen yang tercatat imunisasi lengkap.
Selain memperkuat edukasi, Dinas Kesehatan bersama puskesmas melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal di desa-desa dengan kasus tinggi. Program imunisasi kejar juga dijalankan hingga Desember 2025 untuk mengejar anak-anak yang belum mendapat dosis lengkap.
Saifudin menegaskan, upaya ini harus diiringi kesadaran masyarakat. ”Kami terus melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi. Semua anak harus mendapat imunisasi lengkap untuk mencegah kematian,” pungkasnya.













