PAMEKASAN, MADURANET – Penetapan tersangka mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim atas kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook senilai Rp1,98 triliun pada Kamis (4/9/2025) lalu, memunculkan reaksi dari kalangan akademisi di Madura.
Ahmad Muhlis, Senat UIN Madura, menilai kasus ini berpotensi memberi dampak serius terhadap kepercayaan publik sekaligus masa depan digitalisasi pendidikan di daerah.
“Kasus ini masih dugaan, pasti ada yang percaya dan ada yang tidak. Namun jika benar, tentu akan sangat berdampak pada program digitalisasi pendidikan di Pulau Madura,” ujar Muhlis kepada MaduraNet, Jumat (5/9/2025).
Menurutnya, digitalisasi pendidikan tidak bisa dipahami sekadar pengadaan perangkat. Ada banyak faktor lain yang harus disiapkan, mulai dari infrastruktur, keamanan, hingga proteksi sistem.
“Digitalisasi itu tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Dibutuhkan energi yang besar, bukan hanya perangkat, tapi juga proteksi, pengamanan, dan ekosistem pendukung lainnya,” ujar Muhlis.
Pria yang juga Direktur Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Pamekasan ini, menyoroti potensi kekecewaan besar di kalangan tenaga pendidik dan siswa. Baginya, digitalisasi sudah menjadi kebutuhan primer pendidikan modern yang tidak boleh ditunda.
“Para guru dan siswa pasti akan sangat kecewa jika benar-benar terjadi korupsi. Digitalisasi hari ini adalah kebutuhan primer, paradigma baru dalam dunia pendidikan, artinya tidak boleh ditunda,” imbuhnya.
Dirinya menekankan agar pemerintah tetap konsisten menjalankan roadmap digitalisasi pendidikan, terlepas dari kasus hukum yang menjerat pejabat negara.
“Pemerintah harus pastikan bahwa program digitalisasi akan tetap berjalan sesuai roadmap-nya. Jangan sampai kasus ini membuat dunia pendidikan kembali tertinggal,” tegasnya.
Kasus yang menjerat Nadiem Makarim ini tengah menjadi perhatian publik, setelah Kejaksaan Agung mengumumkan adanya kerugian negara Rp1,98 triliun berdasarkan audit BPKP. Nadiem kini ditahan di Rutan Salemba bersama lima pejabat lain dari Kemendikbudristek periode 2019–2022.
Dikutip dari ChatGPT, Chromebook merupakan program digitalisasi Pendidikan yang dimulai tahun 2020/2021 di Kemendikbudristek. Salah satu komponen utamanya pengadaan laptop berbasis ChromeOS untuk sekolah, lewat DAK fisik & APBN serta e-Katalog LKPP.
Pemilihan Chromebook karena perangkat ringan, mudah dikelola terpusat, sinkron dengan akun belajar.id & ekosistem Google Classroom—cocok untuk pembelajaran berbasis internet.













