PAMEKASAN, MADURANET– Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, menggelar workshop penulisan akademik bertajuk “Harnessing Ethical AI Tools for Academic Writing and Publication in Islamic Studies”, Selasa (22/7/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh 32 akademisi dari berbagai kampus di Madura dan Jawa Timur.
Workshop menghadirkan Muchammadun, Managing Editor Jurnal Ulumuna UIN Mataram, sebagai narasumber utama. Ia menekankan bahwa artificial intelligence (AI) harus digunakan secara bijak dan tidak menggantikan kreativitas penulis.
“AI hendaknya menjadi alat bantu, bukan pengganti kreativitas dan orisinalitas penulis,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, jelas Muchammadun, peserta diajak memahami batasan penggunaan AI seperti untuk parafrase, penerjemahan, hingga pemanfaatan alat anti-plagiarisme. Semua diarahkan pada satu hal, yaitu menjaga etika akademik.
Dirinya melanjutkan, materi yang disampaikan mencakup pemanfaatan AI dalam riset dan publikasi, penggunaan mind mapping dan knowledge hub, hingga penemuan tema riset berbasis studi Islam. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme dari peserta.
Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mengintegrasikan sains, teknologi, dan nilai-nilai Islam.
“Kami ingin memfasilitasi akademisi agar melek teknologi, namun tetap berpegang pada etika dan nilai-nilai keilmuan Islami,” terangnya.
IBS PKMKK berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan workshop lanjutan yang berfokus pada penulisan artikel untuk jurnal terindeks Scopus.
“Workshop ini diharapkan dapat melahirkan penulis-penulis akademik yang adaptif terhadap teknologi dan berintegritas di era digital,“ ujar Muhlis.
Kegiatan ini diikuti oleh akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat, Universitas Islam Madura (UIM), Universitas Wiraraja, Universitas Al-Amien, dan Universitas Annuqayyah, “workshop ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar kampus di Madura,“ pungkasnya.













