PAMEKASAN, MADURANET – Universitas Islam Negeri (UIN) Madura menandai babak baru dalam kiprah internasionalnya. Melalui program kerja sama pendidikan lintas negara, kampus ini berhasil meluluskan enam mahasiswa asing asal Libya dari jenjang Pascasarjana, Rabu (16/7/2025).
Salah satu dari mereka, Adli Ahmed Alameen Ghdamsi, bahkan hadir langsung mengikuti prosesi wisuda tahun akademik 2024/2025.
Direktur Pascasarjana UIN Madura, Prof. Atiqullah, menjelaskan Adli menempuh pendidikan Magister Pendidikan Agama Islam sejak 2021, dengan status mahasiswa asing angkatan ke-21. Ia tercatat sebagai mahasiswa aktif dengan NIM 21380011065, berasal dari Tripoli, Libya. Dalam prosesi wisuda, Adli dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,64.
Prof. Atiqullah, menambahkan bahwa mahasiswa asing tersebut merupakan bagian dari program kerja sama internasional antara UIN Madura dengan sejumlah perguruan tinggi di Libya dan Mesir.
“Total ada 15 mahasiswa asing yang bergabung, namun yang telah menyelesaikan studi hingga saat ini ada enam, dan seluruhnya berasal dari Libya,” ujar Prof. Atiq, sapaan akrabnya.
Prof Atiq menjelaskan, kehadiran mahasiswa asing ini bermula saat pandemi Covid-19. Proses perkuliahan dilakukan secara daring karena pembatasan global. Baru saat memasuki tahap ujian tesis, mereka datang langsung ke Indonesia dan berinteraksi secara fisik di lingkungan kampus UIN Madura.
Program ini, lanjut Atiq, difasilitasi oleh Prof. Hasan Sulaiman dari salah satu perguruan tinggi di Libya. Sebagai bagian dari perjanjian kerja sama, mahasiswa asing tersebut tidak dikenai biaya pendidikan atau UKT 0 persen.
“Karena ini bagian dari program penguatan internasional, seluruh biaya kuliah ditanggung oleh program kerja sama,” jelasnya.
Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, menilai kelulusan mahasiswa asing ini sebagai langkah konkret dari agenda internasionalisasi kampus. Menurutnya, kehadiran mahasiswa internasional tidak hanya mengangkat nama UIN Madura di forum global, tetapi juga memperkaya atmosfer akademik di lingkungan kampus.
“Kami berharap ke depan UIN Madura semakin dikenal sebagai tujuan pendidikan tinggi keislaman di tingkat global. Tidak hanya di Libya dan Mesir, tapi juga ke negara-negara lain yang potensial,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa asing bukan hanya menjadi simbol kerja sama, tetapi juga jembatan pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan antar negara.
“Kami terbuka untuk memperluas jaringan mitra dan akan terus memperkuat program internasional seperti ini,” pungkasnya.













