Program 100 Hari Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan
PAMEKASAN, MADURANET – Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) seringkali tidak diperlakukan secara manusiawi. Bahkan mereka lebih banyak telantar di tempat-tempat kumuh dan tidak sehat. Kondisi itu, membuat Bupati Pamekasan dan Wakil Bupati Pamekasan prihatin. Pemkab Pamekasan melalui program 100 hari kepemimpinan KH. Kholilurrahman dan Sukriyanto, menggagas Posyandu Sejiwa (Satu Tekad Layani Orang dengan Gangguan Jiwa).
Program ini diluncurkan langsung oleh Wakil Bupati Pamekasan H. Sukriyanto, di Balai Desa Blaban, Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan, Selasa (20/5/2025). Kegiatan itu mengusung tema, Posyandu dan Komitmen Satu Tekad Mewujudkan Kabupaten Pamekasan Peduli Kesehatan Jiwa dan Bebas Pasung Tahun 2025 bertempat.
Sukriyanto dalam sambutannya menjelaskan, Posyandu Sejiwa merupakan program inovasi yang dilaksanakan untuk memberikan layanan kesehatan mental yang mudah diakses oleh masyarakat. Orang yang mengalami masalah kesehatan mental juga penting untuk mendapatkan perhatian.
“Orang sakit jiwa itu juga manusia. Oleh sebab itu, mereka berhak untuk medapatkan pelayanan kesehatan,” ujar Sukriyanto.
Mantan Kades Blaban ini menambahkan, di Posyandu Sejiwa itu, para tenaga medis dan penggerak Posyandu memiliki tekad untuk melayani orang yang mempunyai ganguan jiwa dengan target Kabupaten Pamekasan bebas pasung di tahun 2025.
“Kami dengar masih ada orang mengalami gangguan jiwa masih dipasung oleh keluarganya. Ke depan hal ini jangan sampai terjadi, karena Pemkab Pamekasan sudah menyiapkan Posyandu khusus,” imbuh Sukriyanto.
Kepala Dinas Kesehatan, dr. H. Syaifuddin menyampaikan, Posyandu Sejiwa diproyeksikan untuk memberikan layanan bagi pasien dengan gangguan kesehatan mental/jiwa. Mereka banyak ditemukan di rumah-rumah penduduk yang penanganannya masih mengabaikan faktor kesehatan fisik ataupun mental.
“Angka kekambuhan pasien gagguan jiwa yang sudah menjalani pengobatan, peningkatan kemandirian dan produktifitas bagi pasien, dan untuk meningkatkan peran keluarga dalam pendampingan terhadap pasien gangguan jiwa, serta menurunkan stigma terhadap keberadaan penderita gangguan jiwa (ODGJ),”kata Syaifuddin.
Sementara program 100 hari lainnya pada Dinkes Pamekasan, di antaranya memberikan pelayanan kesehatan kepada para santri di berbagai pondok pesantren di Pamekasan. Pelayanan pemeriksaan kesehatan itu, difokuskan kepada penanganan santri yang mengalami kekurangan darah atau anemia.













